Saturday, May 19, 2007

MENDENGARKAN, KUNCI SUKSES BERKOMUNIKASI

Mendengarkan sering kali dianggap sebagai tindakan pasif dan
tidak penting. Padahal, mendengarkan dengan baik merupakan proses
aktif dan membutuhkan usaha sungguh-sungguh. Pendengar mesti mengerti
dan memahami, serta bersedia memberikan tanggapan atas pesan-pesan
pembicara. Dengan mendengar secara baik komunikasi menjadi lancar.
Maka, mendengar yang baik akan menjadi kunci sukses pergaulan sehari-
hari. Di bawah ini sepuluh kiat menjadi pendengar yang baik:

1. Sebelum menghadiri suatu seminar, rapat, atau pertemuan
bisnis, kita perlu mempersiapkan diri dengan membaca bahan-bahan yang
ada hubungannya dengan topik pertemuan atau mempersiapkan pokok-pokok
pikiran penunjang.

2. Tangkap kata-kata kunci dan konsep utuh pembicaraan. Meskipun
demikian jangan melupakan detailnya, yang bisa memperjelas gambaran
yang akan kita bentuk.

3. Pusatkan perhatian pada yang diucapkan pembicara, pikirkan
yang menjadi pesan dari topik pembicaraan, lalu ajukan pertanyaan /
tanggapan yang dianggap perlu.

4. Konsentrasikan pikiran hanya pada pembicaraan yang sedang
berlangsung. Jangan biarkan pikiran melayang ke mana-mana.

5. Tunjukkan sikap kesediaan mendengar dengan menatap pembicara,
mengangguk, atau memberi tanggapan.

6. Jangan tergesa-gesa mengambil kesimpulan. Dengarkan dulu
seluruh pembicaraan, ajukan pertanyaan, baru kita ambil kesimpulan.
Atasi segala gangguan di sekitar kita dengan betul-betul memusatkan
perhatian pada pembicaraan yang sedang berlangsung.

7. Jangan memusatkan perhatian pada gaya, penampilan, atau
pakaian si pembicara.

8. Kalau menghadiri seminar/lokakarya, catat kata-kata kunci,
ungkapan, dan ide yang belum jelas, untuk nantinya ditanyakan. Jangan
menuliskan semua kata-kata pembicara.

9. Untuk mengatasi kebosanan, carilah sesuatu yang
berharga/membangun dari pesan-pesan si pembicara atau perhatikan
kata/ungkapan yang menarik untuk dijadikan bahan evaluasi.

10. Bersikaplah rendah hati, terbuka, sabar, dan tidak terbawa
emosi. Tampaknya mendengarkan merupakan pekerjaan berat, tapi
sebenarnya tidak jika tujuan kita adalah menyerap yang dikatakan si
pembicara.
(Thanks to Mr.Januarta S.)

Salam,
MADA
Founder Entrepreneur Partner
Chief of Business PT MEDIA CITRA (Media Consultant & Publishing Partner)
General Manager DIMENSI PRESS (CTP & Cetak Terpadu)
Franchise Manager PT RISTRA HOUSE
0818.80.6232

Tuesday, May 8, 2007

Success Story Ak,'sa.ra Bookstore

ak,'sa.ra Bookstore "An alternative to the main stream"

ak,'sa.ra Bookstore berdiri tahun 2000. Konseptornya adalah partners, yaitu Winfred, Hanin, dan Arini. Konsep ak,'sa.ra yang sekarang sebenarnya baru dikembangkan tahun 2003.
Arini : "Saat itu saya sebagai pemilik Prodak dan Winfred sebagai pemilik ak,'sa.ra memutuskan menambah divisi baru yaitu divisi gift sebagai kolaborasi kedua toko, melihat adanya sinergi antara ak,'sa.ra dan Prodak. Kami juga ingin menghadirkan konsep lifestyle di ajang retail Jakarta. Kami menilai ak,'sa.ra dan Prodak
on the store level as well as on management level, compliment each other".

Kenapa ak,'sa.ra begitu yakin di tengah raksasa industri konvensional toko buku ?
Arini :" The market exists and it's growing. We want to fulfill that demand in Jakarta. People are always looking for an alternative to the main stream. We offer for alternative lifestyle, from design direction, book selection, music selection, even furniture selection. Otherwise we're just going to be one of the other book store."

Arini : "ak,'sa.ra punya selera sendiri dan ceruk pasar sendiri. Dia tak segan mengangkat musik-musik indie yang tidak dilirik oleh label musik besar. ak,'sa.ra juga menyediakan koleksi buku, furniture yang up to date dan tidak pasaran. Lalu siapa yang menjadi target pembeli mereka? Our target market is people who are interested in design and ideas and who also enjoy good music."

Agenda acara ak,'sa.ra tidak pernah kosong, mulai dari music performance , book launching, diskusi film sampai diskusi seni dan isu-isu sosial. Acara ini merupakan salah satu usaha promosi. Pengunjung yang datang dengan rasa personal terhadap tempat atau acara tertentu sudah pasti lebih "abadi" dibanding pengunjung biasa. Karena itu tahun 2002 ak,'sa.ra Records lahir untuk lebih mempromosikan konsep mereka dalam bidang musik.

Jadi kunci sukses ak,'sa.ra?
Arini : "Kekuatan ak,'sa.ra adalah passion and energy. Tim yang ada di belakang ak,'sa.ra adalah bunch of passionate people. They are passionate of what they do, whether that'd be choosing and selecting books, CDs or gift and furnitures. The book team consists of book lovers, the music dept consist of people who breaths through music day in and day out, and the same goes eith the gift and furniture. We love challenge to find the right market stuff that are demand by the market. And that's not easy. It requires a lot of energy. If you're passionate, you'd have the energy to make it work".
"Dan satu lagi adalah we don't get satisfied easily. We love what we do and we like to share that with other people. ak,'sa.ra is special, it reflects our ideas and our values."



Salam Sukses,
MADA
Founder Entrepreneur Partner
Chief Of Business PT MEDIA CITRA
General Manager DIMENSI PRESS
Franchise Manager & Media Writer PT RISTRA HOUSE
0818.80.6232

Tuesday, May 1, 2007

MENUNDA KESENANGAN KECIL DEMI KESUKSESAN BESAR

The enemy of a great life is a good life
~Jim Collins~-

Seberapa banyak yang ingin kita raih di dalam hidup ini ? Apakah kita telah puas dengan kondisi saat ini, ataukah masih ada keinginan untuk terus menggapai hal-hal baru, yang selama ini belum kita dapatkan ? Dalam proses kita untuk mencapai tujuan itu, ada rintangan yang seringkali menghambat langkah kita sesaat. Saat kita bisa menyelesaikan rintangan itu, akan membuat langkah kita ke depan menjadi semakin kuat dan mantap. Tapi kadang-kadang, seringkali tanpa sadar, saat kita bisa menyelesaikan suatu masalah, kita merasa sudah puas dengan kondisi itu, dan langkah kita terhenti disana. Kita seolah sudah lupa, bahwa tujuan utama kita sebenarnya belum tercapai. Ibaratnya, saat kita bersekolah, kita mendapat nilai sepuluh dalam sebuah test harian. Dan kita sudah cukup puas dengan nilai itu, padahal ujian-ujian itu tadi hanyalah proses-proses sementara, karena bukankah tujuan utama dalam bersekolah adalah naik kelas, dan lulus ?

Kesenangan-2 kecil, tentu perlu juga dirayakan, karena bisa memberikan kebahagiaan, kebanggaan dan kesenangan sementara. Tapi tentu kita tidak boleh terlena di dalamnya lalu berhenti disana. Setelah kesenangan itu selesai dirayakan, kita harus kembali bekerja keras pada jalur utama yang kita tuju. Orang-orang yang sukses di dunia ini, mereka bahkan berani menunda kenikmatan kecil mereka, demi sebuah tujuan utama yang lebih besar. Sebuah kisah nyata yang tepat bagaimana kita menunda kesenangan kecil demi mendapatkan kesuksesan yang lebih besar, adalah Sylvester Stallone. Dia memang kini salah satu aktor termahal di Hollywood, tapi tahukah anda bagaimana dia
memulai karirnya ? Stallone lahir dari sebuah keluarga miskin di Amerika. Walau demikian, latar belakang keluarga tidak menghalanginya untuk bermimpi menjadi seorang bintang besar. Saat remaja, dia sudah sering mencoba casting di beberapa film murahan, namun itupun tidak pernah berhasil. Suatu saat, Stallone terinspirasi pada sebuah pertandingan tinju, yang membuatnya menulis tentang manuscipt film olahraga tinju, "Rocky".


Setelah selesai, Stallone mencoba menawarkan skrip-nya kepada berbagai perusahaan film, tapi tidak ada yang mau membelinya, karena pada saat itu memang film dengan latar belakang tinju tidak laku di pasaran. Sampai akhirnya, ada sebuah perusahaan yang mau menawar harga naskah film tersebut sebesar 75.000 dollar, sejumlah uang yang nilainya puluhan kali lipat dari uang yang pernah dimiliki Stallone. Saat itu, ada kebimbangan di dalam hatinya. Uang itu, cukup untuk membuatnya hidup lebih layak dan makmur. Tapi di sisi lain, Stallone ingin menjadi seorang bintang, seorang aktor terkenal, bukan seorang penulis naskah film. Jadi Stallone mencoba menawarkan kepada perusahaan film tersebut, agar dia yang menjadi aktor utamanya. Mereka menolak, karena mereka sudah memilih seorang aktor yang sudah berpengalaman untuk film tersebut, dibanding Stallone yang tidak punya latar belakang dan pengalaman di film. Negosiasi menjadi alot, karena Stallone menolak menjual naskah tersebut jika bukan dia yang menjadi pemeran utamanya. Bahkan saat harga naskah itu meningkat tiga kali lipat, dan terus meningkat hingga satu juta dollar, Stallone tetap menolaknya. Walau ia miskin dan lapar, tapi dia berani menolak uang satu juta dollar, hanya karena dia sudah punya impian yang kuat, bahwa dengan menjadi aktor, dia bisa memperoleh uang jauh lebih banyak dari uang satu juta dollar.

Akhirnya, perusahaan film itu menyerah juga, dan mereka mengijinkan Stallone menjadi pemeran utama, dengan syarat naskah itu dijual hanya dengan harga 35.000 dollar, serta Stallone hanya akan mendapat bayaran sebagai aktor sejumlah persentase tertentu jika film itu cukup laku di pasaran. Sebuah pilihan berisiko tinggi diambil oleh Stallone. Mengorbankan uang 75.000 dollar, dan hanya mendapatkan 35.000 dollar plus tambahan lagi beberapa ribu dollar jika film itu laris. Semua orang di sekitarnya mengatakan bahwa keputusan itu adalah keputusan terburuk yang pernah diambil Stallone. Tapi Stallone tidak menggubris itu semua, karena di hatinya dia tahu, bahwa yang dia lakukan ini hanyalah menunda kesenangan sesaat, untuk mendapatkan kesenangan lain yang lebih besar.

Pada waktu film Rocky diluncurkan, bukan saja film itu menjadi laris, tapi bahkan menjadi box office di seluruh dunia, dengan total penjualan bersih menjadi 171 juta dollar, meraih 10 nominasi untuk academy awards, serta mendapatkan satu piala Oscar. Secara spontan, Stallone langsung naik daun menjadi aktor kelas atas Hollywood, dan tawaran main film kelas satupun mulai berdatangan ke dirinya. Apa yang dialami oleh Sylvester Stallone adalah sebuah pilihan untuk berani menunda kesenangan-kesenang an kecil, dan berjuang untuk meraih kesuksesan yang lebih tinggi lagi.

Jangan pernah terjebak dengan kenyamanan sementara, yang kadang membuat kita merasa sudah puas, padahal bukan itu sebenarnya yang kita inginkan. Nikmati hasil sementaranya, tapi tetaplah punya visi ke depan yang jelas, untuk terus mengejarnya.

(Terimakasih kepada SONNY VINN, "Slam Dunk To Success")


Salam Sukses,
MADA
Founder Entrepreneur Partner
Chief Of Business PT MEDIA CITRA
General Manager DIMENSI PRESS
Franchise Manager & Media Writer PT RISTRA HOUSE
0818.80.6232

Melipatgandakan Network

I know I want to be a world class in something. I just need to find the avenue.
~ Chris Gardner dalam The Pursuit of Happyness~

Pertama-tama, apa sih "network" itu? Kata networking seringkali menjadi sesuatu klise yang sangat berpamrih bisnis. Apa benar? Membangun jaringan bisa diartikan macam-macam, dari membangun hubungan dengan stakeholders bisnis Anda, bisa pula sekedar memperluas pergaulan, atau bahkan membangun hubungan antar manusia dari berbagai negara. Saya sendiri tidak pernah mengartikan networking sebagai sesuatu yang semata-mata hubungan bisnis. Bagi saya membangun network lebih merupakan membangun hubungan pribadi yang sedikit lebih dalam daripada sekedar menyapa nama saja. Mungkin ini yang disebut sebagai tahap awal dari persahabatan.

Dalam kamus saya, ada beberapa tingkat persahabatan. Ada yang sekedar beraliansi belaka untuk suatu kepentingan tertentu, ada pula yang merupakan persahabatan secara pribadi yang mendalam serta sering kali melibatkan keluarga masing-masing. Yang kedua ini sangat jarang saya temui, namun bukan berarti sesuatu yang langka dan mustahil. Ada beberapa sahabat yang masih tetap kontak sejak masa kanak-kanak dan kami masih saling memberikan dorongan tanpa pamrih sampai hari ini. Apapun alasan persahabatan yang akan Anda bangun dengan network, jalankan dengan tulus dan tidak mengharapkan imbalan. Tunjukkan dengan perbuatan, jangan cuma ngomong di bibir saja.

Biasanya, apabila sudah di jalan yang benar, satu aksi kecil saja dari Anda, sudah akan menggetarkan network, sehingga reaksi berantainya bisa dirasakan dengan sekejap. Sebagai contoh, dengan semakin banyak sahabat yang mengagumi Anda akan karya-karya dan karakter kepribadian Anda, semakin positif enerji yang Anda refleksikan ke luar dan semakin positif pula enerji yang akan Anda terima kembali.

Mungkin Anda pernah mendengar yang disebut sebagai The Six Degrees of Separation Theory. Konsep bahwa setiap manusia di bumi mempunyai hubungan yang sangat dekat satu sama lain ini pertama kali dicetuskan oleh penulis cerpen Hungaria bernama Frigyes Karinthy di tahun 1929. Namun, psikolog sosial asal Universitas Harvard bernama Stanley Milgram-lah yang berhasil membuktikan kebenaran premis ini di tahun 1967.

Dalam risetnya, Milgram berhasil membuktikan bahwa setiap orang yang bermukim di Amerika Serikat (ia menggunakan AS sebagai sampel penelititannya) saling berhubungan satu sama melalui enam orang sebagai titik pertaliannya (friendship link). Ia sendiri tidak pernah menggunakan istilah The Six Degrees of Separation, namun fenomena " enam orang sebagai titik pertalian" seringkali dihubungkan dengan studi ilmiahnya yang dikenal sebagai The Small World Experiment ini.

Di dunia Internet, titik-titik pertalian ini tidak hanya terbatas kepada mereka yang bermukim di suatu letak geografis tertentu saja. Duncan Watts, seorang profesor di Columbia University berhasil membuktikan di tahun 2001 bahwa setiap e-mail yang disebarkan secara random kepada 48.000 orang di 157 negara saling bertalian rata-rata setiap enam orang. Jadi, satu dari enam orang yang kita temui di Internet (bahkan dunia nyata) pasti mempunyai hubungan baik langsung maupun tidak langsung dengan kita.

Saya sendiri sangat yakin akan konsep ini dan telah membuktikannya. Sekarang, saya malah secara sadar telah membangun jejaring untuk mencapai beberapa titik pertalian penting yang akan sangat menentukan jalan hidup saya di masa depan. Sebagai seorang penulis yang sudah cukup banyak berkarya, titik-titik pertalian saya dengan hampir setiap orang di muka bumi ini sudah semakin dekat. Mudahnya demikian, setiap pembaca karya saya mempunyai titik pertalian dengan saya dan setiap enam orang di dunia mempunyai titik pertalian dengan para pembaca buku saya. Ini berarti setiap pembaca buku saya adalah "duta" bagi 1/6 dari populasi dunia, dan ini berarti jutaan orang di dunia. Alangkah kecilnya dunia ini dan alangkah dahsyatnya kemampuan kita semua untuk saling berhubungan satu sama lain.

Ada beberapa pusat titik pertalian yang bagi saya sangat penting di dalam hidup.
1. Kekuatan Kasih.
2. Kekuatan Media.
3. Kekuatan Ekonomi.
4. Kekuatan Politik.

Keempat kekuatan ini jika digabungkan merupakan kekuatan luar biasa untuk mengubah dunia menjadi lebih baik daripada hari kemarin. Dengan sadar, buatlah peta antara diri Anda dengan tokoh-tokoh yang Anda tuju. Lantas, jalankanlah kehidupan sehari-hari Anda dengan kesadaran penuh bahwa setiap langkah yang Anda perbuat akan menghantarkan diri Anda sedikit lebih dekat dengan mereka, yang merupakan "puncak" dari gunung es peta kekuatan network dunia.

Ini bukan berarti saya mengajarkan Anda untuk "mencolek" siapa pun yang Anda jumpai di dalam hidup Anda. Saya juga tidak mengajarkan kepada Anda untuk "minta dikenalkan" kepada para tokoh tersebut melalui siapa pun, namun saya ingin menunjukkan bahwa kurang lebih akan ada enam titik antara Anda dengan tokoh mana pun di dunia yang Anda tuju. Jarak ini demikian dekat sehingga sebenarnya Anda bisa dengan percaya diri mengontak langsung melalui surat maupun e-mail, misalnya untuk bisa berkenalan dan memasukkan tokoh-tokoh mana pun ke dalam daftar kontak Anda.

(Terima Kasih kepada Jennie S. Bev, beliau adalah penulis dan edukator asal Indonesia yang menetap di Amerika Serikat.)

Salam,
MADA
Founder ENTREPRENEUR PARTNER
Chief of Business PT MEDIA CITRA (Media Consultant & Publishing Company)
General Manager DIMENSI PRESS (CTP & Cetak Terpadu)
0818.80.6232

Sunday, April 1, 2007

Belajar Komunikasi dari Dagadu (Dagadu, apa kabar mu?)

Bicara tentang brand di Indonesia, masih ingat dengan Dagadu ?
Dirintis oleh 25 mahasiswa UGM jurusan arsitektur di tahun 1994 dengan semangat ‘main-main’, Dagadu berhasil muncul sebagai salah satu sarana pencitraan kota Jogja yang khas.

Didesain unik dengan kalimat-kalimat guyonan plesetan tipikal Jogja sebagai pesan utamanya, Dagadu menjadi medium yang bercerita tentang kota Jogja kepada para wisatawan. Isi pesannya semua tentang Jogja. Ya tentang artefaknya, bahasanya, kultur kehidupannya, maupun peristiwa keseharian yang terjadi di dalamnya. Saat itu, di Jogja terjadi demam Dagadu.

Namun ternyata, demam Dagadu tak hanya terasa di Jogja. Tapi menular, beberapa pabrik kaos di Bandung pun di era yang sama mengikuti kesuksesan Dagadu dengan menciptakan kaos serupa namun satu per satu tumbang.

Tak hanya di pulau Jawa, demam Dagadu juga menular sampai ke Bali hingga terlahirlah brand serupa Dagadu di Bali bernama Joger.

Era kaos dengan kalimat-kalimat lucu, bisa jadi, sudah lewat. Dagadu pun kini tak lagi riuh terdengar. Namun ada hal menarik yang bisa kita pelajari dari Dagadu di masa lalu yaitu cara berkomunikasi alias beriklan yang tidak paritas.

Dagadu berkomunikasi lewat kaosnya, stikernya, gantungan kuncinya, papan pengumuman di toko, penunjuk arahnya, hingga pernak-pernik lainnya yang digarap dengan serius sehingga menjadi sarana iklan yang dicintai konsumen dan terus dikenang. Di saat yang sama, konsumen pemakai kaos Dagadu pun juga merupakan iklan berjalan yang menyebar di mana-mana.

Dagadu sudah menggunakan cara komunikasi non traditional di saat istilah itu pun belum dikenal di Indonesia. Dagadu juga membuktikan bahwa komunikasi dengan cara ini mampu membuat sebuah brand dikenal, dicintai, dan tidak dikonsumsi hanya oleh ‘kalangan terbatas’ seperti yang selama ini sering diperdebatkan.

(Terimakasih kepada Virus Communications)

Salam,
MADA
Founder ENTREPRENEUR PARTNER
Chief of Business PT MEDIA CITRA (Media Consultant & Publishing Company)
General Manager DIMENSI PRESS (CTP & Cetak Terpadu)
0818.80.6232






Thursday, March 8, 2007

Guerilla (Gerilya) Media, mahluk apa itu?


Guerilla (gerilya) Marketing dan Guerilla Media. Dua mahluk ini dalam beberapa tahun belakangan ini sering sekali disebut sebut oleh kalangan marketer dunia sebagai senjata yang ampuh untuk melawan competitor bisnis yang bermodal besar. Namun dalam pembahasan kali ini, saya akan focus membicarakan Guerilla Media.

Guerilla atau gerilya sebenarnya merupakan jenis strategi dalam pertempuran seperti yang pernah dilakukan Indonesia ketika berperang melawan Belanda atau Vietnam melawan Amerika. Dengan amunisi yang kalah jauh, pasukan menyusup perlahan ke daerah musuh. Sedikit demi sedikit menahklukkan area yang tak dikuasai hingga akhirnya memasuki area terbesar dan berhasil membuat musuh kalang kabut. Kunci kemenangan dengan menggunakan metode gerilya ini adalah pemahaman lokasi, strategy dan konsistensi.

Guerilla Media pada dasarnya menggunakan metode yang sama. Jika selama ini brand kelas kakap menghujani konsumen dengan placement jor-jor an di medium TV, Radio, dan Print Ad, maka Guerilla Media menawarkan solusi komunikasi yang menggunakan medium selain medium diatas yang notabene biaya medianya jauh lebih murah. Bentuk Guerilla Media bisa berupa instalasi kreatif ambience media, viral, email, pesan melalui HP, happening art, souvenir dll. Intinya, menarik perhatian setinggi mungkin tapi menekan biaya sebesar mungkin.

Secara medium, Guerrilla Media juga mempunyai peluang untuk menarik perhatian konsumen lebih besar daripada media tradisional seperti TV, Print dan Radio karena konsumen sudah terbiasa melihat iklan-iklan TV ketika menonton TV, melihat print ad ketika membaca media cetak, atau mendengar iklan radio ketika sedang mendengar radio. Karena sudah terbiasa, yang muncul bisa jadi justru penolakan terhadap iklan.
Tetapi ketika melihat pesan iklan guerrilla media dalam bentuk yang unik dan medium yang tak terduga seperti iklan-iklan di wastafel toilet, pesan iklan pada buah-buahan di supermarket atau instalasi-instalasi kreatif di tempat umum dll, konsumen tanpa sadar terpengaruhi oleh iklan dan tidak memiliki kesempatan untuk merejectnya seperti halnya yang dilakukan di medium tradisional.

Pertanyaan yang sering muncul selanjutnya adalah seberapa efektifkah Guerilla Media ini? Jawabannya, semuanya tergantung strategy, konsep dan se’nendang’ apa ide kreatifnya serta konsistensi pelaksanaan. Strategynya bagus, ide kreatifnya ngga nendang…ya tidak akan dijadikan bahan pembicaraan. Strategy bagus, ide kreatifnya cemerlang, tapi pelaksanaannya tidak rutin, hasilnya juga tidak akan maksimal.
Intinya, Guerilla Media memerlukan effort yang lebih dari sisi pemikiran dan tenaga, namun jika dilakukan dengan sungguh-sungguh dan konsisten, hasilnya LUAR BIASA!!.

Salam Entrepreneur,

MADA
Founder Entrepreneur Partner
Chief of Business PT Media Citra (Media & Publishing Company)
CEO Dimensi Press (Design, CTP Printing & Digital Printing)
0818.80.6232

Thursday, March 1, 2007

Bagaimana sih mencari modal usaha ??

Kalau Anda seorang wirausaha atau ingin menjadi wirausaha, sebagian dari Anda pasti pernah mengajukan kredit usaha dari lembaga keuangan seperti bank. Hasilnya ada yang berhasil ada juga yang tidak.
Mencari pinjaman memang bukan hal yang mudah, karena cukup banyak persyaratan yang harus dipenuhi. Namun sebenarnya meminjam untuk modal usaha tidak harus ke bank. Untuk itu ada beberapa hal yang harus dipahami.

Pertama, apa usaha Anda adalah usaha baru dirintis atau sudah berjalan?
Kalau sudah berjalan mungkin akan lebih mudah. Namun biasanya harus sudah berjalan minimal 3 tahun.

Kedua, apa usaha Anda sudah berbadan hukum (PT,CV atau Perseorangan) ?
Jika belum memang sulit, oleh karena itu sebaiknya penuhi dulu aspek tersebut.

Apabila salah satu atau kedua-duanya dari kedua aspek tersebut tidak dipenuhi, maka sudah jelas Anda sangat sulit atau tidak bisa mendapatkan pinjaman dari bank tapi mungkin tidak mesti ke bank, lantas siapa?

“Angel Investor”
Yang dimaksud Angel Investor ini adalah pihak-pihak non bank yang bisa dijadikan tempat mencari modal usaha atau tambahan modal usaha.

Pertama, saudara. Karena ikatan emosional yang kuat dan karena prinsip menolong.

Kedua, teman. Karena hubungan pertemanan yang cukup baik dan hubungan emosional yang kuat. Teman yang layak dijadikan tempat meminjam adalah yang sudah dekat dengan Anda dan keuangannya cukup memadai. Namun sebaiknya Anda tetap memperlakukan pinjaman tersebut secara profesional atau ada pembagian keuntungan.

Ketiga, kenalan. Motif kalangan ini kebanyakan karena imbalan atau pembagian keuntungan. Sepanjang Anda mampu menjanjikan pembagian keuntungan yang besar, peluang Anda juga akan semakin besar untuk mendapatkan pinjaman modal.

Keempat, pihak-pihak yang disebut sebagai “Angel Investor”. Kalangan ini memberi bantuan tidak berdasarkan materi atau imbalan, tapi karena memang ingin menolong Anda untuk memiliki usaha atau memperoleh tambahan modal usaha.
Jika Anda mendapatkan bantuan dari kalangan ini, jelas Anda beruntung, namun juga perlu dicermati lagi.

Ataupun kepada pihak-pihak tersebut Anda bisa menawarkan kerjasama bagi hasil atau pembagian saham (join).

Kendati memang ada pihak-pihak yang dapat membantu Anda untuk meminjam modal usaha tanpa persyaratan yang cukup rumit, bukan berarti Anda bisa mudah memperolehnya dan tidak profesional. Oleh karena itu Anda tetap harus persiapkan rencana usaha Anda dengan baik dan profitable. Dengan perencanaan bisnis (business plan) yang baik, Anda akan dianggap serius dan profesional sehingga mudah mendapat kepercayaan.
Selamat mencoba!


Salam,
MADA
Founder ENTREPRENEUR PARTNER
Chief of Business PT MEDIA CITRA (Media Consultant & Publishing Company)
General Manager DIMENSI PRESS (CTP & Cetak Terpadu)
0818.80.6232